Showing posts with label Literature. Show all posts
Showing posts with label Literature. Show all posts

Wednesday, September 11, 2013

Namaku: Refan. Bab 2

Hal terakhir yang gue inget dari kelas 10 -- selain yang ada di Bab 1 -- yaitu keadaan rumah gue yang kayak kapal pecah. Orang tua gue resmi bercerai. Ayah gue seorang pilot yang super sibuk, yang akhirnya memilih untuk bersetubuh dengan pesawat daripada dengan istrinya mengabdikan diri pada pesawat. Sedangkan ibu gue, dia sibuk sama kegiatan kantor. Iya, beliau wanita yang independen. Gue gak ngerti gimana kisah cinta mereka. Seorang pilot dan wanita karir yang super sibuk. Akhirnya, gue dan adik intelek gue diasuh sama Bibi Jeanette. Kami memanggilnya Auntie Jean. Inilah salah satu alasan kenapa gue yakin ada darah bule di dalam tubuh gue. Yes! Gue orang bule. Bule campuran. Pevita pearce, cewek gue. Amin.

Masuk kelas sebelas adalah sebuah impian remaja, terutama pria. Kenapa? Karena ini waktunya untuk hunting ikan di laut lepas. Banyak orang yang bilang, pertumbuhan fisik perempuan akan terlihat semasa mereka menginjak kelas sebelas. Perempuan cenderung akan terlihat lebih dewasa, layaknya anak SMU. Tidak terlihat lagi sifat SMP yang masih terbawa, kecuali mereka yang memutuskan untuk tetap menjadi anak SMP. Sok unyu. Sok imoet. Mual. Hoek.

Komposisi kelas pun berubah. Gue udah gak sekelas lagi sama mailakat pembuat mimisan -- baca bab 1. Biasanya, skala antara perempuan dan pria cukup terbagi rata, tapi karena banyaknya pendatang baru, akhirnya skala berbalik. Pria menjadi dominan disini, yang artinya akan semakin banyak saingan buat mancing. Ah, dunia gak adil. Namun, tampaknya itu gak jadi masalah karena semua perempuan di kelas, lulus dari uji standarisasi gue. Yes! Banyak ikan gemuk di laut. Lalu, pikiran gue melayang jauh setelah menyadari bahwa gue dikelilingi malaikat kw super. Rasanya kayak raja roma yang lagi makan anggur sambil dikipasin sama daun pisang. Gue ngelamun.

"Pagi anak-anak!" Teriakan ini memecah lamunan gue. Nengok kanan, nengok kiri. Gue mencari sumber suara. Ternyata, itu suara Pak Doni Fapor. Salah satu guru menggelikan yang pernah ada. Beliau berperawakan tinggi besar dengan perut menjuntai ke depan, dilengkapi dengan sikat hitam tebal di atas bibir dan pelindung alami yang tebal di sekitar lengan (red: rambut tangan). Jangan bilang, dia wali kelas gue. Gawat!

"Bagaimana libur kalian? Pasti tidak menyenangkan, karena kalian pasti sangat rindu sekolah. Terutama sa-" Belum selesai bicara, salah seorang murid mendadak tersungkur dan muntah. Semua cengo melihat anak itu, kemudian melirik ke arah Pak Doni.

. . . Suasana hening . . .

Sesungguhnya anak itu gak muntah. Perisitiwa itu cuman kejadian yang terjadi dalam benak gue.

Ini yang sesungguhnya terjadi,
"Bagaimana libur kalian? Pasti-" Tanya Pak Doni.
"Sangat seru! Karena kita tidak perlu ketemu sama Bapak." Teriak salah seorang murid.
"Iya, kita tidak perlu melihat Bapak memainkan rambut yang sudah mulai habis itu." Kelas riuh dengan tawa.
"Bapak mau tahu surga apa yang nyata?" Tanya seorang perempuan berambut ikal.
"Tidak melihat Bapak berada di kelas ini!" Tawa semakin riuh.

Pak Doni diam mematung. Beliau menghela napas panjang. Matanya, mulai berair. Bibirnya bergetar. Inilah satu hal yang menggelikan. Pak Doni memiliki tingkat feminisme yang cukup tinggi. Bahkan dengan bantuan badan besar dan kumis tebal, feminismenya masih terlihat. Biasanya, dalam hitungan lima detik beliau akan...

Gue bahkan belum menyelesaikan kalimat dan beliau sudah pergi. Sungguh aneh dunia ini. Sayang, kamu dimana? Aku rindu.

"One man! Touchdown!" Tampaknya, bakal ada preman kelas nih. Bahagia bener habis ngerjain guru. Padahal gurunya kan unyu menggilikan jijik kayak gitu, kasian kali. Setelah gue perhatikan, ternyata murid yang tadi teriak adalah Philipus Ambrose. Namanya terdengar yunani banget kan? Ayahnya sangat percaya bahwa mereka punya keturunan dewa Yunani. Ayahnya seorang sejarawan yang sangat mengagumi budaya Yunani. Lalu, kenapa gue bisa tahu? Karena dia dulu sempet deketin ibu gue, yang dia kira adalah seorang janda. Dasar genit.

"Bangga banget lu Lip. Biasa kale, bentaran juga lu dipanggil kepala sekolah." Celetuk Chloe. Chloe ini perempuan yang sangat independen. Dia gak takut sama pria, tapi bisa jinak sama pria kalau lu tau cara menaklukannya. Dia memiliki badan yang ideal, rambut yang lurus dan panjang, mata yang indah, bibir tipis, kulit putih, suara yang merdu, eye catchy, tidak mudah dilupakan, jatuh cinta pada pandangan pertama dan sangat ... cantik. Bahkan gue gak bisa melupakan pandangan pertama gue ke dia. Ketika angin sepoi membelai lembut pipi dan WHUUUSH! Rambutnya berkibar. Merpati berterbangan di belakangnya. Aaaaah, aku melihat keperkasaan Pencipta.

"Ooh! Ooh! Jadi ada yang mencoba jadi peramal ... Cantik?" Philip berjalan pelan ke meja Chloe dan dia menatapnya lurus. Tajam.
"Mau ngerayu gue? Percuma. Gue gak butuh rayuan dari elu. Anak mami." Wih! Chloe bisa jadi dingin begitu juga.
"Apa?!" Hahahaha. Wajahnya sih Philip memerah, alisnya bertemu. "Belum pernah dipukul ya?"
"Cupu beraninya sama perempuan. Cupu. Cupu. Sini lawan gue kalau berani!" Teriak gue dari dalam hati. Sejujurnya gue takut sama Philipus. Dia berbadan jangkung dengan otot yang menyesakkan baju dan muka yang garang.
"Sini pukul kalau berani!" Chloe janganlah kamu balas lagi, akang tidak berani untuk membela kamu.
"Untung lu cewek..." Philip berkata dengan nada merendah dan berjalan menjauh. Keluar kelas. Tampaknya dia ke kantin.

Dada gue kembang kempis. Eh bentar, kenapa gue yang jadi panikan dan deg-degan? Mungkin ini telepati dari Chloe kali ya. Ah, aku memang berjodoh dengan seorang malaikat.

===

Kehidupan sekolah gue gak berbeda jauh sama di rumah. Kalau di sekolah, gue adalah seorang nerd yang sok jagoan, di rumah gue adalah anak yang sok pintar padahal  prestasi gue jauh di bawah Vini, adik gue. Dia adik gue satu-satunya yang masih available, eh adik gue cuman satu deh. Berwajah lebih bule dari gue, dengan rambut kecoklatan dan badan yang mulai terbentuk. Belum lagi, dengan kebiasaannya yang suka berolahraga dan makan sehat. Sudah banyak pria yang mengincarnya, tapi mereka tahu bakal sulit mendapatkan Vini. Wong Vini adalah seorang yang independen. Sepertinya sifat ini diturunkan dari Ibu gue.

"Kak, aku kangen ibu dan ayah nih." Celetuk Vini yang menghempaskan dirinya di ranjang.
"Kakak juga kangen sih, tapi mereka punya kesibukan sendiri. Mau bagaimana lagi?"
"Tapi, aku ingin ... setidaknya bertemu dengan mereka. Bercengkrama lagi seperti dulu. Makan bersama lagi saat makan malam, atau sekedar piknik di bukit belakang rumah."
"Hmm.. kakak juga pengen." Giliran gue kali ini yang menghempaskan diri ke atas ranjang. "Tapi, kemungkinan itu sangat kecil. Kamu sendiri juga tau kan, kalau hal seperti itu cuman membuat kita jadi gak bisa maju?"
"Iya Kak."

Sebetulnya, hubungan kami ke orang tua pun tidak seharmonis percakapan kami. Mereka jarang pulang ke rumah, sehingga interaksi kami pun tidak banyak. Kalau pun pulang, waktunya tidak tepat. Antara kami sedang bersekolah, atau kami sudah tidur. Bahkan kami lebih dekat dengan tetangga di komplek yang memperhatikan kami. Pernah suatu malam, kami tidak makan apapun karena Ibu lupa menyiapkan makanan. Alhasil, kami diberikan makanan oleh tetangga sebelah yang kebetulan sedang mampir. Sungguh ironis kan? Tapi orang tua tetap orang tua. Tanpa mereka, kami tidak ada di sini. Mereka adalah pahlawan, tanpa tanda jasa.

"Kak, gimana kabar Kak Clara?"
"Hah? Clara?"
"Ah sok lupa, itu ehem-ehemnya kamu yang dulu. Jaman labil. SMP."
"Kamu labil dong, kamu kan masih SMP."
"..."
"Clara ya, terakhir aku denger sih dia masuk salah satu SMA ternama di kota. Beasiswa pula."
"Yah sayang dong dulu kakak menjauh dari dia, kalau sekarang masih dekat kan bisa jadi pelindung kakak."
"Maksudnya pelindung?"
"Iya, biar kakak gak keliatan bego-bego amat gitu loh. Untuk dapetin cewek pinter kan rada susah."
"Kamu ya!" Gue lempar bantal dan nutup muka dia pake bantal. "Rasakan nih, ngomong sembarangan sama Kakakmu yang bule ini."
"Am... fun, Ka.." Karna kasian, gue sudahi menutupu mukanya pakai bantal. Kalau misalkan dia mati, nanti siapa yang nemenin gue lagi.
"Eh udah malam nih, mandi gih abis itu turun ke bawah. Makanannya udah siap kayaknya."
"Iya-iya." Vini bangun seketika dan berjalan keluar.

Dasar Vini, karna dia gue jadi keinget lagi sama Clara. Gue udah berjuang buat ngelupain dia selama setahun belakangan. Kira-kira gimana kabar dia sekarang ya? Mumpung lagi sendiri, kayak emang tepat banget nih buat ngestalk dia. Hohoho. Eh itu gak gentle, gue harus sms dia. 


Semoga dia masih inget sama gue, sama nama gue, sama kenangan kami, sama ciu- eh ngapain gue cerita kenangan gue sama kalian. Nanti gue jadi makin galau. Hmm.. satu kenangan yang gak pernah lepas dari gue adalah ketika gue secara berani bilang. "Clar, kamu wanita paling jaha cantik yang pernah aku lihat, kamu mau jadi ehemku gak?" Kenapa gak jadi pacar? Karena kata mama anak SMP gak boleh pacaran. Dan jawabannya dibalas sangat lama, tapi jawaban akhirnya Yes. SHE SAID YES. #senangnyalamaranditerima.

Kemudian hening...

Read more!

Wednesday, September 4, 2013

Namaku: Refan. Bab 1

Prolog

Sekolah baru, seragam baru, pengalaman baru, guru baru, temen baru, kenalan baru, suasana baru, ide baru, sepatu baru, buku baru, pen baru, pensil baru, tas baru, cewek baru, istri baru. Jadi kepengen kawin, eh gak bisa deh, gue masih dibawah umur bahkan. Nonton pelem aja masih harus dikontrol. Ea. Mesum.

27 Juli 2009

Hari pertama masuk sekolah. Kesan gue? Bahagia. Kenapa? Wali kelas gue cakep banget, aduhai bodinya, bahkan lekukan gitar aja kalah. Udah gitu, suaranya juga merdu, sangking merdunya sampai memekarkan bunga mawar. Seriusan. Kalau untuk temen baru di kelas, jujur gue sangat asing. Wajarlah yah sekolah baru, kelas baru, kenalan baru. Semua berasa sangat berbeda sama jaman SMP gue. Ketika gue masih bisa sembarangan sok asyik sama cewek dan asal nembak, sekarang gue harus bisa jaga imej. Mereka gak boleh ngecap gue jadi anak freak, karena gue bukan freak. Gue adalah Batman.

Setelah bel berbunyi, di kelas diadakan tegur sapa. Masing-masing dari kami harus maju ke depan dan memperkenalkan diri. Sekarang, giliran gue.

"Bonjour!" Gue menggunakan bahasa prancis sebagai pembuka. Biar dikira gue ada keturunan bulenya.
"Perkenalkan, nama gue Refanus Aditya. Umur gue sama kayak kalian, masih di masa-masa ababil. Terus hobi gue ngedengkur di sebelah poster abu sasha. Gue percaya bahwa gue ada keturunan bulenya, terbukti dari muka gue yang mirip bule. Satu hal yang gue suka adalah cewek dengan poni sam-" Gue baru sadar, bahwa informasi gue berlebihan dan semua orang ngeliatin gue pake muka bego. "Kayaknya segitu dulu infonya, ada yang mau tau lebih?" Semua orang menatap satu sama lain, terus menggeleng bersamaan. Oke, ternyata gue emang keren banget sampe temen gue sendiri pun bengong.

Perkenalan masih dilanjutkan. Sekarang giliran wali kelas gue yang memperkenalkan diri.

"Selamat siang semua, perkenalkan nama Miss-" Aduhai denger suaranya aja udah bikin klepek-klepek. "Lana Keen. Kalian bisa panggil saya Ms. Lana atau Ms. Keen. Saya suka merajut dan memasak." Beh, ideal banget buat jadi istri. Apa yang kurang coba? "Miss, baru pertama kali jadi wali kelas. Jadi kalau ada kesalahan tolong dimaklumi ya." Beliau tersenyum. Kami kaum adam, cengo. "Ada pertanyaan?" Ini kesempatan gue buat kenal lebih deket sama dia.

Diacungkan jari telunjuk ke arah langit kelas, penuh girang gue bilang ... "Miss minta nomor telfonnya dong."
"Buat apa?" Beliau bertanya, raut mukanya berubah.
"Biar aku bisa callingan sama Miss setiap mal, eh setiap kalau ada masalah."
"Boleh. Ini aku tulis di papan tulis." Dengan sigap, gue ambil pen dan sebuah kertas dari meja sebelah. Ah, surga. Dapet nomor guru cantek.
"Eh Refan!" Ada yang manggil nama gue.
"Kena-" Gue nengok. Pupil gue membesar. Leher gue tegang. Mata gue belo. Ada malaikat tanpa sayap di sebelah gue. Ah! Oh! Yeah! Surga di dalam dunia. Gue, cengo.
"Ini pen sama kertas aku, kalau kamu mau pinjem kasih tau dong. Jangan -" Gue gak perduli kamu ngomong apa malaikat, mataku terpaku. Terpantek. Gak bisa ngehindar dari cantiknya wajah kamu. "... jadi gitu ya, jangan diulangin lagi." Gue masih cengo. "Refan, refan, kamu gapapa kan? Fan?" OH MY GOODNESS. "Kok kamu pucet. Sini bentar. Jidat kamu gak panas kok." Jidat gue dipegang. Dingin rasanya. Ah, melted. Ada yang ngalir. Darah. "Loh Refan, Fan?!" Gue mimisan. Pusing. "Refaaaaaan!" Suaranya makin terdengar pelan. Pelan. Pelan. Sunyi. Gelap. Gue pingsan di hari pertama masuk sekolah.

Bangun-bangun gue udah ada di UKS. Unit kesehatan setempat. Hidung gue dimampetin sama tissue. Gue ngeliat sekeliling. Gak ada orang. Kok gak seru banget, kan mestinya ada yang nemenin gue pas gue tertidur. Sedih. Sedih. Eh bentar, gue pegang jidat gue. Uh! Masih berasa ada sentuhan. Soft touch. Ah, gue harus kenalan sama dia.

===

Lewat beberapa minggu, gue baru sadar bahwa malaikat tanpa dosa yang nyentuh jidat gue adalah bekas mantan temen gue yang akhirnya berubah menjadi mantan best friend temen gue, yaitu gue sendiri. Intinya, itu mantan gue. Glek. Gue gak sangka dia jadi kayak gini, 

Sebuah kesalahan gue mutusin dia.
Ah, padahal gue udah move on. Sekaran gue uda di friendzone lagi. Dunia berat sebelah deh. Mari kita akhiri cerita gue yang udah mulai gak berujung, tepatnya gue gak tau apa yang harus gue ceritakan lagi ke kalian. Pembaca kisah hidup gue. Kelas SMA 1 gue berakhir dengan tidak mulus. Pincang. Nilai naik turun, kisah cinta yang mulai membara tapi padam sama dinginnya friendzone, harus berjuang keras biar bisa kurus dan dicintai kaum hawa. Masa yang lalu tapi tidak indah untuk dikenang. Hahahahaha.

Rada ngebut ya? Tapi ini kan kisah gue. Terserah gue mau ceritain bagian yang mana. Jangan kepo gitu dong, kepo kan gak baik buat kalian. Gosipin orang lain itu gak bagus loh. Hahahaha. Gue udah ceritain secara cepet kelas pertama gue di SMA, nah gimana dengan kalian? Masih inget gak sama masa-masa kalian masih bersikap layaknya anak SMP yang baru lulus.

I do miss my Grade 10. This is part 1 and wait for part 2, next week probably. A bientot!



Read more!

Sunday, March 10, 2013

Prolog: Namaku: Refan

Hai, nama gue Refanus Aditya. Kalian cukup panggil gue Refan aja, dan ini kisah hidup gue.

Jakarta, 1994
          Oek.. Oek.. Oek..
     "Madam! Bayimu laki-laki. Lihat kemaluannya. Dia laki-laki!" Tegang yang menyelimuti atmosfer memudar. Tangisan makhluk ini memecah suasana.
         "Sayang, kamu memang hebat. Lihat bayi kita, dia begitu mempesona."
         "Madam! Tangisan ini bertanda sebuah kebaikan, jagalah dia dengan baik."
         "Pasti Sus."

Siapa yang pernah membayangkan, seorang bayi mungil bisa menjadi seorang raja yang agung? Alexander Agung membuktikannya. Sekarang, di abad 21, dimana galau sudah merebak dan menjadi mimpi buruk para jomblo, seorang pemuda akan rule the world. Betul, gue orangnya. Refanus Aditya.


===

        "Fan, dimana kamu? Ayo, nanti kamu terlambat. Hari ini kan hari terakhir Ujian Nasional, jangan sampai telat dong.”
     “Iya Pa, sebentar lagi. Ini tas nyangkut di lemari. Mboook, Mbook, bantuin Refan dong.” Dengan tergopoh-gopoh, Mbok Tuti menaiki tangga dan bantuin gue. Mbok Tuti itu pelayan setia yang udah mengabdi di keluarga. Sudah lebih dari 20 tahun, dari sebelum Papa menikah.
       “Aku datang Papaku sayaaaang.” Mama meringis melihat tingkah laku gue yang riang banget. Gimana gak riang, sebentar lagi gue bakal lepas dari celana pendek. Itupun kalau gue lulus dari Ujian Nasional ini. “Ma, aku berangkat ya.” Tidak lupa gue kecup punggung tangan Mama, sebagai restu menyelesaikan Ujian Nasional.
===

“Fan, kamu udah siap belum? Kemarin, aku sms kamu kok gak dibales. Udah tidur ya?” Clara, salah satu perempuan yang deket sama gue tapi yaaa, gitu deh. Anak SMP.
“Yah, siap-siap aja. Toh, Alexander Agung aja bahkan gak bisa prediksi dia siap untuk mati atau ng—”
“Alexander mulu, kapan lu berhenti dan coba cari idola baru sih? Kan banyak artis yang bisa—”
“Ada cewek, bego. Jangan ngomong sembarangan. Dasar bokep.”
“Apanya yang bokep? Lu kali yang bokep. Dasar otak mesum.”
“Dasar otak pisang susu.”
“Kecoak Bunting.”
“Apa, mbok lu bunting? Wah kacau, pasti elu pelakunya.”
“Udah! Berisik banget sih Put. Bentar lagi udah mau mulai ujiannya. Jangan ganggu konsentrasi Refan dong.” Clara yang sedari tadi diam, mendadak meledak tidak terima ehemnya dipermainkan seorang Putra Prasetyo Pratama. Putra ini temen gue sejak kecil, tepatnya pas SD. Dia itu sanguin, artinya dia friendly banget. Terbukti dari jumlah cewek yang udah di-php-in dia. Dia seorang musisi terbaik yang pernah gue liat. Lihai banget memainkan jemarinya di atas senar. Gitar adalah perempuan baginya.
“Enak yah ada yang belain. Pengen dong punya ehem, gandengan gitu.”
“Apaan sih Put? Gak usah nge—”
“Ayo anak-anak, ujian sudah mau dimulai. Jangan berisik lagi. Kamu yang berkacamata, jangan ngobrol terus. Lembar jawaban akan dibagikan.” Yah, pengawasnya sudah datang, padahal gue belum siapin contekan. Hahahaha. Eh, gue lupa bilang. Perawakan gue itu berkacamata, tinggi, bulet tapi ganteng. Makanya gue punya ehem-ehem. Kata Mama, anak SMP belum boleh pacaran, tapi gak ada larangan punya ehem-ehem.

20 Juni 2009

“Fan! Fan! Fan! Ada surat buat elu—”
“Berisik!”
“Fan bangun! Ada surat dari pemerintah!”
“Ada urusan apa gue sama pemerintah. Kemaren udah nemenin Mama bayar pajak kok.” Kesadaran gue masih belum penu
“Ini surat dari Depdiknas. Ini pengumuman Ujian Nasional elu. Bangun dong, dasar kebo.”
“Haaaaaaaaaaah?!” Gue tersentak dan berusaha duduk, tapi rasanya ada yang ganjil. “Vini! Jangan duduk di atas gue dong. Gue kan bukan bantal.” Vini atau Rivinius Adinda, adalah adik gue satu-satunya. Berperawakan menarik, dengan tingkat intelektual yang tinggi, serta didukung sikapnya yang bikin hati cowo nurut, sekarang available kok. Gue berasa kayak jualan adik gue. Dia not for sale. Maaf ya.
“Nih suratnya, baca sendiri.”
Sreeet… Sreeet… Perlahan tapi pasti, gue membuka amplop putih bercap pos itu. Wangi tangan mas tukang pos masih tercium. Selembar kertas bersih terlipat rapi. Tampak guratan tanda tangan, ketikan komputer dan sebuah tulisan. Samar tapi pasti, terlihat nama gue. Refanus Aditya, 24-153-789-8. Gue berusaha melirik mata untuk ke bagian bawah, melihat apakah gue lulus atau tidak. Hasilnya, gue lulus.
“Mama! Papa! Vini! Anakmu tercinta, terganteng, terbaik, terlucu, terpintar, teri ikan bawal pakai nasi goreng, lulus dari Ujian Nasional.” Lu tau kan rasa girangnya begitu lu lulus? Gue rasa lu girangnya setengah mampus. “Ahahahahaha, Aku lulus Mama! Papa! Vini.” Langsung gue peluk Vini yang kurus di depan gue.


===


Truut… Truut… Treek.
“Halu, Put-put, gimana hasil surat lu?”
“…”
“Kok diem sih? Gue lulus mamen! Wahahahahaha!”
“…”
“Weh, kok diem sih? Lu kenapa?” Muka gue yang riang tiba-tiba serius mirip Alexander Agung yang siap perang.
“Fan, kayaknya kita gak akan satu SMA, kita akan—”
“Maksudnya apa nyong? Lu lulus kan?”
“Gue… gue… gak lulus—”
“Putra! Dasar gila, mana mungkin gak lulus?! Selama ini kita udah pergi belajar bareng. Bahkan lu yang ngajarin gue. Kok bi—” Suara gue tertahan, gak bisa bayangin teman sejagat komplek gue harus gak lulus.
“Kampret, pernah diajarin gak sih untuk gak nyela orang pas ngomong? Gue gak lulus… buat ngerayain kelulusan… gue… bareng cewek gue…”
“Loh, emang sih Rani kemana?”
“Kemarin gue mainin, sampai yah gitu. Gak bisa bersuara lagi. Suaranya udah seok, kelamaan main sama gue.”
“Wah gila, dasar nafsu. Mending lu cari yang baru, biar pas digenjot, suaranya merdu.”
“Gak punya duit, habis gue pake buat main yang lain.”
“Dasar gila. Eh gimana kabar sih Clara ya? Lu ada kabar gak?”
“Mana gue tau, itu kan ehem elu, kenapa gue yang harus ngurus?”
“Hmm. Besok gue telfon lu lagi, Put. Ahahahaha. Pisang susu.”
“Kecoak bunting.”
“Emak lu bunting? Wah pasti elu pela—”
Treek… Tuut… Tuut…
Yah dimatiin hpnya, dasar Putra. Satu hal yang perlu lu ketahui, Rani itu sebutan buat gitarnya Putra. Gitar pertama yang dia beli pakai uang hasil jualan jambu curian. Hayoo, jangan mikir yang aneh-aneh. Dasar otak mesum.
Sebentar lagi liburan dimulai. Sebentar lagi masa-masa putih abu-abu gue dimulai. Masanya gue buat pacaran secara liar, eh benar maksudnya. Kira-kira gue harus sekolah dimana ya? Ada ide gak? Gue rencana mau coba cari beasiswa di sekolah swasta. Denger-denger banyak bule bertebaran di sekolah swasta. Kan lumayan dapet blonde gitu. Hehehehe.

Kisah hidup gue bermula dari sini. Ketika gue memutuskan untuk masuk sekolah swasta tanpa beasiswa. Walaupun adik gue tingkat inteleknya tinggi, bukan berarti gue pinter, gak berarti juga gue bego. Hahahaha. Tungguin yah, kisah hidup gue selanjutnya. Sampai Jumpa.


Read more!

Tuesday, October 23, 2012

Spoiled OUT!

Hei, jumpa lagi :3 Uda lama gak ngeblog, dan gue ngeliat ada sarang laba-laba di pojok kanan atas bawah kiri atas kiri kanan atas tengah bulat sabit cinta ini ke hati kamu, alias udah gak ada postingan baru. Ada pun yah inilah postingan barunya. Well, gue mau membeberkan beberapa rahasia blog gue dalam postingan ini.

Selama gue bikin cerita di blog, I never make a draft, semua berasala dari spontan-isme kecuali cerita-cerita yang gue buat pas lagi di sekolah. Alhasil, beberapa cerita mentok dan gak berkembang sama sekali. Ada dua cerita bersambung yang akhirnya mentok.

Awal pertama gue bikin cerita ini untuk nyindir temen gue, karena iseng jadi gue bersemangat banget pada waktu itu. Dua tahun berlalu, gue re-post ceritanya dari blog lama ke blog baru. Dan cerita begitu aja, gak pernah berkembang. Ending-nya? Gue gak tau. Mungkin sih Denni ini akan menjadi manusia laut yang bersimbiosis sama ikan terus lahir generasi putri duyung. Dan tampaknya gue gak akan ngelanjutin lagi. Biarkan itu menjadi cerita yang menggantung, biarkan kepastian cinta ini tidak akan pernah ada :(

Ini pertama kalinya gue bikin cerita tapi tokohnya ada barang-barang yang ada di sekitar kita. Anggap aja ini cerita para benda mati yang ngeliatin perilaku kita setiap hari. Kayak pantat pensil yang suka digigit, apakah dia ngerasa sakit? Semacam itulah. Sebenarnya, cerita ini seperti flashback, karena di bagian satu sudah menceritakan bagaimana sang cowok akhirnya bunuh diri. Bagaimana bisa di bunuh diri? Mungkin, karena dia berantem hebat sama ceweknya terus dia akhirnya jatuh cinta sama tali, hingga tali tidak bisa melepaskan dia. Sungguh, cinta ini mengikat.

Untuk beberapa saat gue lagi merencanakan sebuah cara baru gue mosting. Jujur, gue rada bosen dengan gaya postingan gue yang monoton, dengan serial-serial setiap minggunya. Seperti apa postingannya dan bagaimana caranya, tunggu saja. Semoga cinta ini terus membekas dan biarkan dehakid tetap jaya. GO GO POWER RANGERS!

Read more!

Monday, July 23, 2012

Bagian 4

Bagian 3
ALDO

Ketika, kurasakan sudah ada ruang di hatiku yang kau sentuh.
Dan ketika, ku sadari sudah tak selalu indah cinta yang ada.
....

"Suara petikan dawai bersenar itu, makin indah ditambah suara merdu Aldo. Ya, Aldo sedang bertengger di jendela sembari bermain gitar. Entah apa yang ditatapnya. Matanya sendu melihat ke arah rembulan. Cahaya rembulan menyinari wajahnya. Sedih nampaknya." Gumam Jamdi (jam dinding).

Bila memang, ku yang harus mengerti mengapa cintamu tak dapat ku miliki.
Salahkah ku bila kau lah yang ada di hatikuuuuu uuuuu ....

Mendadak hp Aldo berdering, seketika itu juga Aldo berhenti bermain gitar karena mendengengar dering ringtone yang keluar dari Nokianya .

"Babe, cowok kesayangan kamu nelfon tuh. Putra cayang dihujung sanach :*." Nokia berkata dengan lantang, walau ia tau Aldo tidak akan pernah mengerti dirinya. Aldo mengambil telefonnya.

"Halo.." Sapa Aldo.

"Baby, sedang apa kamu? Aku rindu sama kamu disini. Aku dengar kemarin kamu udah baikan ama Manda ya? Sejujurnya aku cembu-" Sahut Putra dari ujung sana dengan amat gembiranya.

"Homo." Balas Aldo dengan datarnya. "Pasti elu yang ganti ringtone hp gue ye? Pas minggu lalu kita pergi makan bareng."

"Ih baby, gahar banget sih. Iya, kamu bermasalah dengan itu? Biar kamu inget teyuch sama akuch.. Anyway, lagi ngapain bro?"

"Berisik! Biasa, lagi sentil-sentil senar. Tumben nelfon gue, ada apaan nih?"

"Aku hamil bro. Lawak lu." Putra tertawa kecil. "Nggaklah. Gue ngerasa ada beda sama lu belakangan ini. Seminggu ini tepatnya. Masih bermasalah sama Manda?"

"Well, begitulah." Aldo mendengus.

"Gue hadir untuk mendengarkan. Akuch disinich untuks kamuch sajach. Muaaach."

"Put gue mules nih. Hmm. Udah seminggu ini Manda selalu matiin hp kalau gue sms atau telfon. Gue dateng ke rumah, pembantunya bilang nona gak di rumah. Bingung gue put. Gak ada petunjuk. Argh!"

"Oh, emang masalah awalnya bagaimana sih? Inti dari permasalahan lu ini?"

"Awalnya cuman miskomunikasi. Dia pengen gue dateng ke rumah dia, tapi gue gak bisa. Lagi ada keperluan penting-" Belom selesai Aldo bicara, Putra langsung memotong. "Keperluan penting, tapi mention-mentionan terus sama Shilla. Hehe."

"Put? Gue gak ama Shilla. Ya ampun. Mention sebagai temen emang gak boleh? Sedeket-deketnya di twitter gak akan sedeket di dunia riil kan?"

"Iya sih, tapi Shilla kayaknya suka sama lu deh. Liat aja di kampus, suka senyum-senyum sendiri kalau lagi sama lu. Terus suka ngeliatin elu. Inilah cinta bro. Cinta!"

"Sebenernya sih terserah lu." Wajah Aldo tampak tidak senang.

"Santai dong bro. Walau lu sayang sama Manda, tapi kalau Mandanya udah bisu lu harus berpikir juga dong. Bro bro, udahan dulu ya. Dipanggil cayangku nih. Hehe."

"Bye, titip salam ke cayangmu." Aldo mematikan hp.

"Ya, dapat dilihat Aldo kembali memalingkan wajah ke jendela. Tatapan yang sama lagi." Komentar bung Jamdi.

Mungkinkah yang dikatakan itu benar, Manda, apakah itu benar?
Bahwa kamu sudah bisu. Diam. Mempermainkan aku?
Hmm. Terima kasih. Kamu perlu tau, aku masih tetap mencintaimu.

"Aldo, aku masih tetap ada disini. Entah kamu mau apakan aku, tapi aku akan setia menemani." Batin Nokia yang seolah membaca pikiran Aldo. "Mungkin cara Putra adalah yang terbaik, mungkingkah?!"

Entahlah

Bersambung. . . 

*Kejadian hanya sebuah fiksi, jikalau ada kesamaan kejadian dan tempat berarti cuman kebetulan.
Lirik lagu : Maliq and D'Essentials - Untitled, Ringtone: It's Your Bro Friend Calling For a Man Date

Read more!

Friday, June 22, 2012

Bagian 3

Bagian 2
Di pihak pejantan. . .

Tuuut... Tuuut... Tuuut...

"Halo, Manda! Manda! Damn!"

"Udah sih Do, Manda udah gak sayang lagi sama lu, men--" Mata Aldo langsung memincing ke arah Putra yang belum selesai bicara. "Ding lu selingkuh aja atau putusin dia dan cari cewek baru."

"OI PUTRA jaga omongan lu!" Teriak Nokia Aldo. "Gue bukti cintanya Aldo ama Manda, dia siap membiarkan gue kecapekan baterai tinggal satu, demi bisa sms-an sama Manda. Lu gak punya kuasa buat ngo--"

"LU BERANI SAMA MAJIKAN GUE?" Balas Ipon Putra (Iphone buatan Cina). "Bos gue cuman mengatakan yang bener kok. Buktinya BB udah jarang ketemu sama lu, itu tandanya Bos elu udah jarang jalan ama Manda."

"Tapi itu gak menjadi alasan buat Aldo putus sama Manda, mereka kan eperlasting, gak terpisahkan kalau menurut pelem yang ditonton Aldo baru-baru ini, sama ...." Mendadak Nokia diam.

"Lawak lu Put, mana mungkin gue bisa putusin dia gitu aja. Lagian ini kan udah lagi jalan tahun ke-lima, dan gue lepas gitu aja? Makan jamban aja Put." Celoteh Aldo gak terima candaan Putra.

"Simple aja Bro, Manda belakangan jadi sensitif banget kan? Terus dia suka aneh sendiri. Semua kebebasan lu direnggut Cuy, belum lagi dia ngerasa lu punya hubungan khusus ama Shilla. Eh sebenarnya lu ada apa sih sama Shilla? Belakangan lu jadi deket banget sama dia." Aldo diam ditanya begitu, Putra masih terus berusaha ngorek-ngorek apa yang sebenarnya terjadi antara sahabatnya sama monster-berambut-panjang itu.

"Sama siapa Nok? Benerkan, bahwa Aldo sendiri juga udah mulai deket sama Shilla-Shilla itu. Elu sendiri juga udah jadi saksi. Kenapa masih gak mau ngaku?" Serang Ipon ke Nokia. Nokia masih diam menatap ke arah Aldo.

"Do, benarkah ini? Bahwa selama ini lu ada apa-apa sama Shilla itu? Pantes kemarin motorola bisa mendadak ngegombalin gue." Nokia bergumam sendiri dan sedikit berharap bahwa apa yang digumamkan itu gak terjadi.

"Udah ngaku aja Nok, toh gak ada ruginya. BB hilang, Motorola pun jadi. Udah lebih ramping dibanding sih BB." Bujuk sinis Ipon.

"Do? INI SERIUSAN DO?"

Braaaak... Pletaaak... Nokia menjatuhkan diri dari meja dan dengan sigap Aldo berlari dan meraih Nokia sebelum terbentur lantai *adegan slow motion* "Nokia-a-a-a-a...." Braak.. Keduanya jatuh dan Nokia berhasil ditangkap.

"Aldooo Aldo, hp butut gitu dibuang aja sih. Masih lu pake aja, mending lu beli punya gue deh. Iphone, murah lagi." Nokia menatap pasrah gak percaya disebut hp butut.

"Iye, Iphone Cina. Beli di tanah abang paling. Put cari makan yuk. Laper." Ipon menatap marah ke Aldo dan berusaha bertingkah tapi gak bisa, karena Putra sudah keburu mengangkatnya dari meja.

"Oke sayang." Canda Putra. Nokia dan Ipon saling bertatapan. "Maho..."

"Do, lu gak seriuskan putusin Manda?" Nokia masih terus bergumam. "ALDO LU GAK SERIUS KAN? JAWAB GUE WEEEEEH."

"JAWAB GUE ALDO!"

Ngieeek.. Blaaak.. Pintu kost Aldo tertutup.
Bersambung . . . 
Bagian 4
*Kejadian hanya sebuah fiksi, jikalau ada kesamaan kejadian dan tempat berarti cuman kebetulan.

Read more!

Saturday, June 16, 2012

Bagian 2

Bagian 1
Sebulan sebelumnya . . .

"Pokoknya, aku gak mau tahu. Aku mau kamu disini sekarang! Seka--"

"Tapi Manda, A-aku lagi gak bisa. Aku lagi ada keperluan penting, gak bisa aku tinggalin. Ja--"

"Kamu udah janji sama aku, sekarang kamu ingkar lagi? Udah berapa banyak jan--"

"Manda, kamu bisa gak sih ngertiin aku? Aku ini la.. Aku ini lagi berusaha. Dan kamu gak mau meng--"

Tuuut... Tuuut... Tuuut...

"Halo, Manda! Manda! Damn!"

"Aduh neng Manda, jangan nangis lagi dong. Sudah banyak tissue yang kamu buang. Sebaiknya kamu lebih perhatiin aku dibanding Aldo itu." Celoteh Tong Sampah yang mulai penuh sama tissue basah.

"Ini udah hampir kesepuluh kalinya dia nangis. Sumpah itu Aldo-Aldo itu gak tau diri banget. Cowok jahat banget. Ceweknya lagi butuh, tapi dia malah keluyuran dengan alibi ada urusan. Gak tau di--"

"Wow, jaga omongan lu BB, walau lu barang terdekat sama dia tapi lu gak bisa ngejudge gitu aja." Protes parfum ke BB. Parfum melanjutkan pembicaraan. "Kalau emang sih Aldo itu gak tau diri, gak mungkin Manda berani pakai tabungannya buat beli gue cuman untuk dipake kalau lagi jalan sama Aldo."

"Tapi gimana yah Fum, udah jadi kejadian biasa dimana Manda ngobrol sampai air liur muncrat ke microphone gue. Dan itu disebabkan sama Aldo ini. Lu gak kena getahnya sih, jadi fine-fine aja." Balas BB yang gak terima sama omongan Parfum.

"Aldo, a-a-aku udah gak tau harus gi-gi-gimana lagi." Hik.. Hik.. Praang.. Cepriiing.. Whuuush.. Praang..

"Parfuuum! Awaaas!" Teriak Tong Sampah.

Praaang.. Braaak.. Praaang.. "Aldo, aku sayang sama kamu." Hu hu hu hu...

"Telah berpulang teman kami, Parfum ke dalam rumah Bapa Parfum di surga para parfum. Ayo semuanya bicara 'hoa' sebagai tanda berkabung." Perintah jam dinding yang sudah berbelas tahun tertancap di dinding. "Hoa."

"ALDOOOO!" Hu hu hu hu hu..

"Neng, gue bukan benda yang lu cari. Gue mohon jangan liatin gue, apalagi dengan kondisi sekarang. Please, jangan sentuh gue." Kata Gunting dengan sangat cemas. "Manda, back off. I say back off! Jangan sentuh gue or I will bite ya! Rawr!"

Pletaak.. Sreet.. "Aw!" Hu hu hu hu.. Sroot.. "Aw! Sakiiit!"

"You sick Manda, you sick!"
Bersambung . . .
*Kejadian hanya sebuah fiksi, jikalau ada kesamaan kejadian dan tempat berarti cuman kebetulan.

Read more!

Wednesday, June 13, 2012

Bagian 1

Tik.. Tik.. Tik..

Lima, enam, tujuh, delapan, sembilan, sepuluh, ... lima puluh lima, lima puluh enam, lima puluh tujuh, lima puluh delapan, lima puluh sembilan, enam puluh, satu, dua, tiga, empat, ...

"Ini orang gak capek apa? Setiap saat ngeliatin gue terus. Gue aja yang diliatin ngerasa risih. Apa yang salah sama lu sih bang?" Celoteh jam dinding yang hidungnya bergerak ke kanan kiri.

"Biarin aja toh, gak ada salahnya dia liatin elu juga. Toh emang lu fungsinya untuk dilihat. Mending daripada di buka paksa dan digigit-gigit." Balas kulit pisang yang terkulai lemas setelah 'pembukaan paksa'.

Pfft.. Pfft.. Bruuut..

"Argh, dia ngeluarin angin lagi." Celoteh kipas angin yang sedari tadi menghisap udara dan menghembuskannya kembali.

Sreet.. Sreet.. Sreet.. Cepletak.. Nyiiit.. Nyiiit.. Sreet.. Sreet..

"Hahahahaha! Hahahahahaha! Gue mohon berhenti sekarang juga. Gue geli, sumpah ini geli banget. Jangan digores-gores badan gue. Geli!!" Teriak kertas putih itu yang sedang ditulisi.

"Ssstt.. Bisakah kalian diam sebentar? Kalian gak lihat dia sedang menulis sebuah surat? Televisi! Kecilkan suaramu sekarang. Biarkan dia berkonsentrasi dengan apa yang dikerjakan." Perintah pensil yang sedang digaet dia untuk dipakai menulis.

Ngieeek.. Braaak.. Cengiiit... Cengiiiit...

"Ayo kemari, ayo kemari. Peganglah aku. Kalungkanlah aku. Aku akan terus menemanimu, hingga ada yang melepaskan kita."

Braaak.. Braaak!! Argh! Aaaa-aa-a-....

"Lihat kakinya sudah tergantung, aku tak akan melepaskan kamu. Aku janji." Komentar tali yang tergantung di langit-langit dan sedang menahan seseorang.

Bersambung . . . 
Bagian 2
*Kejadian hanya sebuah fiksi, jikalau ada kesamaan kejadian dan tempat berarti cuman kebetulan.

Read more!

Tuesday, December 27, 2011

#cumanaksirunite -- Just Stare and Smile :)

Inilah pengalamanku, tidak memacari maupun tidak dipacari. Hanya ... Naksir.

Berawal dari pertemuan pertama di bangku kelas satu SD. Sebut saja namanya Lampu, dan ia adalah seorang perempuan. Kenapa Lampu? Dia menerangi gelapnya hatiku di tengah anak-anak baru di SD dan memotivasi diriku di masa tergoda oleh perempuan lain.

Awalnya kami tidak mengenal satu sama lain. Lampu mempunyai cici, dan kokoku mengenalnya. Di situlah koneksi pertama kami, mengenal hanya sebatas memandang. Mata dengan mata. Tidak ketinggalan, suster-ku (orang yang mengantar dan menjemput ke sekolah) memiliki koneksi khusus kepada suster Lampu. Asyik! Aku punya banyak koneksi.


Tahun pertama:
Tahun pertama berjalan dengan cepat. Wajar aku tidak sekelas dengannya, hanya dapat memandang ketika sedang istirahat pertama atau kedua. Tidak ada yang tahu mengenai perasaanku ini selain mata dan hatiku. Naksir pada pandangan pertama itu emang sulit buat dihindari.

Ah lampu, kamu begitu indah bak permata di pinggir kali :3 -- Bagi mata anak SD sih tampaknya .... BOLEH lah

Tahun kedua:
Inilah cobaan, tidak terduga, aku sekelas dengannya. Gembira tak kepalang. Di zamanku itu, rasa suka digambarkan dengan persen. Contoh :

Gue : Aku suka kamu!
Lampu : Berapa persen ?
Gue : 95%
Lampu : 5% nya ?
Gue : Cadangan buat cewek lain
Lampu : ...

Dialog di atas adalah fiktif, karena ngomong saja aku tidak berani. Berbulan-bulan hanya menatap saja, tetapi tetap senang rasanya. Tampaknya dia tidak menyadari seberapa seringnya aku melirik dengan mulut tertutup.

Hingga suatu hari ... ketika lagi di perjalanan menuju rumah dari sekolah, susterku mengatakan bahwa Lampu menyukaiku. Argh, bagai diterpa tiupan pelan angin dan bunga sakura yang berguguran. Senang tak kepalang, tapi aku sadar realita. Berita ini belum tentulah benar. Suster-ku mulai berkata bahwa Lampu membicarakanku, aku ini badannya besar dan berbagai hal lainnya, tapi tidak mengungkit kegantengan wajahku.

Setelah seminggu, entah mengapa setiap mandi aku selalu berpikir. Aku ini layaknya kingkong yang mempunyai pacar seorang putri dari negeri kahyangan. Seringkali sesudah mandi aku berdiri di depan cermin dan berkata "Kamu adalah KingKong."

Berbulan-bulan terlewati, memasuki bulan-bulan terakhir dalam kelas dua ini. Aku memberanikan diri untuk mempertanyakan kevalid-an dari berita / rumor / isu / gosip tidak jelas itu.

Gue : Lampu...
Lampu : Iya?
Gue : Aku dengar dari susterku, katanya kamu...
Lampu : Kenapa?
Gue : Kamu suka sama aku?
Lampu : ... (diam dan berpaling muka)

Dialog di atas, gue lakukan ketika kelas sedang berlangsung. Suasana saat itu yang sedemikian berisiknya mendadak terasa diam dan sunyi, hanya berasakan aku dan Lampu saja. Saling menatap bingung dan penuh tanda tanya. Anehnya, tidak ada satupun teman aku yang mendengarkan dialog ini. Dunia seolah-olah berhenti mendengar ketika aku mengucapkan hal itu.

Reaksi Lampu? Dia hanya memalingkan muka dan tidak menjawab. Itulah terakhir kalinya aku berbicara dengannya. Sejak saat itu ia tampak enggan untuk berbicara kepadaku, ketika bertemu denganku ia memalingkan wajahnya sejenak kemudian melihat ke arah lain. Argh, sungguh disesalkan. Aku memberanikan diri untuk bertanya, tapi tampaknya rasa berani itu tidak kunjung datang. Aku menyerah.

Tahun ketiga:
Kami tidak sekelas, tetapi kelas kami bersebelahan. Dia masih tetap memalingkan wajahnya, aku tetap sama dengan tahun sebelumnya. Diam, terpaku. Sesekali aku menangkap beberapa temanku menggoda Lampu. Pasrah? Tidaklah, memang dari awal kan naksir saja tidak cemburu atau pun apa, hanya terasa menyesal saja mengapa aku tidak bisa berbicara lagi dengannya.

Tak apa walau tak bisa berbicara, asalkan masih bisa melihatnya itu sudah merupakan sebuah anugrah :3

Tahun keempat:
Sekarang sudah memasuki kelas 4. Aku tidak menemukan namanya di absensi setiap kelas. Kemanakah Lampu pergi? Seminggu berlalu, barulah aku menemukan jawaban. Lampu pindah sekolah... Apakah dia pindah karena aku? (Mengapa segitu percaya dirinya aku), apapun alasannya ia pindah pastilah bukan karena aku.

Sampai sekarang, aku benar-benar terputus kontak dengannya. Facebook, Friendster ataupun twitter, belum pernah aku menemukannya. Aku berharap ia tumbuh menjadi putri yang cantik dan masih bisa menyinari hatiku.hehe.

Dear Lampu, semoga lu juga baca deh jadi nostalgia gitu :)

Sekian...

Itulah, pengalamanku. Mau dianggap true story boleh, fiksi juga boleh. Cerita ini tidak 100% persis dengan kejadian yang terjadi. Biarlah yang terjadi (yang asli) hanya tercatat di otak bagian tengahku saja :)

Cerita ini dituliskan untuk mengikuti lomba dari @hurufkecil

Read more!

Saturday, October 15, 2011

Angin Senja

“Dio kamu kenapa ?” Seorang perempuan menyapa dari kejauhan.
Dio mengangkat wajahnya dan melihat ke arah perempuan itu. Ia mencoba menebak siapa perempuan itu. Ternyata dia adalah Fajar, teman sepermainan Dio. Dio hanya menatap, tidak berbicara dan menunduk lagi.
“Aku nemenin kamu yah.” Fajar menghampiri Dio, kemudian ia duduk di sebelahnya.
Dio hanya menatap dan kemudian menunduk. Ia memilih diam ketimbang berbicara, lidahnya seakan beku, badannya serasa lemas. Sikap Dio pada siang hari itu sangatlah berbeda. Dio yang periang, cerewet dan pelawak mendadak berubah menjadi Dio yang diam, cemberut dan dingin. Fajar menyadari ada yang salah dengan sikap Dio belakangan ini, ia ingin berbicara dengan Dio tetapi ia belum menemukan waktu yang tepat.
Dio dan Fajar adalah teman sejak kecil. Hubungan persahabatannya, mereka peroleh dari relasi antar orang tuanya. Ayah Dio dan Ayah Fajar adalah partner kerja, sedangkan Ibu Dio dan Ibu Fajar adalah teman sepermainan sejak kecil. Rumah merekapun bersebelahan, jadi tidak aneh jikalau setiap hari Dio dan Fajar pergi dan pulang sekolah bersama-sama. Sekolah mereka pun selalu sama sejak TK hingga SMA.


“Kriiiiing Kriiiiiing Kriiiiiing.”

Bel sekolah berbunyi, menandakan waktu istirahat telah usai. Sebagian siswa berlari penuh semangat melewati koridor dan menuju kelas, tetapi berbeda dengan Dio. Ia serasa malas sekali untuk berdiri, tulangnya serasa sudah terlem dengan super glue hingga sulit sekali untuk bergerak. Namun rasa malas itu mendadak sirna. Fajar tersenyum dan mengangkat Dio untuk berdiri.
“Dio yang semangat yah, aku tahu kamu pasti bisa.” Fajar mencoba membuat Dio kembali menjadi Dio yang ia kenal.
Dio menatap Fajar dalam-dalam. Secara pelan tetapi pasti, Dio mencoba tersenyum. Lebar dan makin lebar. Dio tersenyum, Fajar juga tersenyum. Keduanya bertatapan
“Plaaaaaak!” Fajar mendadak menampar pipi Dio.
Dio tersentak, senyumnya menghilang seiringan dengan datangnya rasa perih di pipi kanan Dio. Ia menatap Fajar makin dalam.
“Hehe, maaf Dio ada nyamuk zebra di pipi kamu.”
kalau gue cewek udah gue hajar nih cewek, gue jambak-jambak pake tali rafia. Ditarik sama kuda ampe ujung kulon.” Batin Dio. Ia kesal tetapi senang, karena masih ada yang peduli dan sayang dirinya.
Keduanya langsung tertawa dan berjalan bersama menuju kelas.
“Kamu itu bego, gak berguna, gak bisa apa-apa. Cuman bisa ngomong aja. Kamu tuh cuman diciptakan untuk dihina, kamu layak dihina !”
“Orang lain akan lebih senang kalau kamu tidak ada, kamu gak eksis di dunia ini, kamu gak pernah diciptakan.”
“Orang lain gak butuh kamu, tapi kamu yang butuh mereka, dan akan selalu butuh mereka. Kamu itu gak diperlukan, hanya dipake seklai dan dibuang dan dibakar. Dimainkan secara semena-mena”
Kalimat-kalimat ini terbacakan dengan keras di pikiran Dio. Sepanjang perjalanan pulang, ia terus merenunginya. Tak jarang ia hampir tertabrak bemo karena ia melamun sembari berjalan. Menunduk dan berjalan dengan gontai. Fajar yang memerhatikannya sedari tadi tidak dapat berbicara banyak, ia hanya menatap Dio dan menjaganya agar tidak tertabrak bemo.
“Dio kamu kenapa sih? Cerita dong sama –“ Belum selesai Fajar berbicara, Dio mendadak berhenti dan menatap ke langit.
“Fajar, pernahkah kamu berpikir jikalau kamu tidak ada di dunia ini, apakah orang lain yang sekaran dekat denganmu akan lebih bahagia? Apakah mereka lebih senang?”
Pertanyaan ini menyentak dan memaksa Fajar untuk berpikir keras. Jarang sekali Dio mempertanyakan mengenai hal seperti ini. Fajar terbilang cukup pintar di sekolah tetapi sangat sulit untuk menjawab pertanyaan Dio ini.
“Ehm, aku gak tau Dio. Kalau tidak ada aku di dunia ini, ceritanya pasti lain. Mungkin kamu sekarang sedang berjalan dengan orang lain atau bahkan berjalan sendiri. Kita gak pernah tahu apa yang akan terjadi –“ Lagi-lagi Dio menyela perkataan Fajar yang belum selesai.
“Kalau aku mati, siapa yang akan sedih yah?”
“Tentu saja keluargamu, papa, mama, dan aku pasti akan sedih sekali. Kamu kok mendadak ngomong seperti ini. Pamali loh.”
“Aku merasa, aku gak berguna lagi di dunia ini. Aku cuman seperti bungkusan permen yang telah kehilangan permennya. Rasa manis sudah tidak ada lagi di dalam diriku. Aku ingin mati saja rasanya.”
“Dengar aku Dio.” Fajar mengguncang tubuh Dio. “Jangan pernah kamu berkata, kamu ingin mati. Tidak boleh Dio, itu hal yang pamali dan amit-amit terjadi pada kita. Kamu harus sadar itu.” Fajar mengeraskan suara. Beberapa orang di sekeliling mereka melihat kepadanya.
Dio menatap Fajar kemudian membuang pandangannya ke jalan. Dio tidak bisa berkata-kata lagi. Habis sudah kata-kata dalam kamusnya.
“Dio, kamu harus semangat. Semangat dong. Mana Dio yang periang? Mana Dio yang cerewet? Mana Dio yang selalu tersenyum? Aku kangen Dio, aku kangen. Sudah tiga hari kamu begini terus. Dio jawab aku, kamu kenapa sih?” Air mata Fajar jatuh, entah mengapa air matanya bisa jatuh.
“Maaf Jar, aku masih belum bisa cerita. Ini semua bagai teka-teki dalam hidupku. Semua begitu hambar dan pahit. Semua adalah hitam, gelap, sunyi, dan membuatku serasa terpuruk. Terpuruk di pojok kamar, ketakutan dan kengerian membayangiku. Aku, aku, sudah tidak tahan lagi Jar.” Batin Dio. Ia tidak bisa berkata-kata lagi, semua terasa beku di lidahnya.
Dio berjalan meninggalkan Fajar. Fajar masih berdiri terdiam menatap Dio. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada yang hilang dari hatinya. Setengah hatinya tampak pergi tertiup angin senja.
<><><>
Angin senja itu meniup pelan rambut Dio. Gemerisik suara daun yang bergesekan membuat Dio sadar, bahwa sekarang dirinya sedang berada di atas pohon dan ia memegang sebuah tali. Ia sedang mencoba bunuh diri.
“Surat ini aku tinggalkan di sini aja deh, semoga ada yang baca dan tahu mengapa aku berbuat seperti ini. Aku harap kalian mengerti yah.” Batin Dio.
“Zreeeet… Guzraak…” Dio pun tergantung di bawah pohon dengan tali yang mengikat leher.
<><><>
Kondisi rumah Dio terasa sangat panic, orang tuanya mencarin Dio. Menelepon kerabat dan Fajar adalah cara terakhir untuk mengetahui keberadaan Dio yang tidak kunjung kembali setelah pulang dari sekolah. Handphonenya pun tidak aktif, hal ini makin mendukung suasana panik.
“Jar, kamu melihat Dio gak?” Tanya Ibu Dio.
“Aku gak lihat bu, coba kita cari lebih teliti. Ayo bu.”
Fajar, orang tua Dio dan beberapa orang lainnya mencoba mencari Dio di halaman komplek. Mendadak ada suara teriakan dari arah taman komplek.
“Kyaaaaaaaaaaaaaaaaa…”
“Siapa itu? Hayo kita samperin.” Seru salah seorang dari mereka yang membantu mencari Dio.
“Diooooo, astaga. Dioooo !!” Ibu Dio berteriak histeris menemukan Dio sudah tergantung tidak bernyawa di pohon taman komplek. Fajar tidak bisa berhenti menangis. Ia mencoba menurunkan Dio, Ia berharap Dio masih hidup.
“Dio bangun! Bangun. Aku ada disini, bangun Dio. Bangun!!” Teriak Fajar dengan histerisnya. Tubuh Dio sudah kaku, wajahnya sudah membiru dan bau busuk sudah mulai tercium dari badannya.
Fajar mememukan sebuah kertas dalam genggaman Dio. Kertas itu adalah surat wasiat. Isinya, “Dear Fajar, maafkan aku temanmu ini yang telah membuatmu sedih. Aku tidak bisa bercerita kepadamu karena aku tahu kamu pasti tidak setuju dengan perbuatanku yang sekarang, tapi aku sudah gak tahan lagi. Rasanya aku sudah ingin mati. Dan sekarang aku sudah tenang. Fajar kamu harus janji yah jaga kedua orang tuaku, buat mereka mengerti. Aku tahu kamu pasti bisa. Hehe. Terima kasih untuk semangatnya selama ini. Aku pasti gak akan ngelupain kamu di alam sana. Terima kasih banyak yah Fajar.” Tangis Fajar makin meledak.
“Kamu bodoh Dio. Kamu bodoh!!!” Teriak Fajar sembari meremas kertas itu.
Angin senja itu menghembus pelan. Membawa sebuah kenyataan pahit bahwa Dio sudah tiada. Terbang menyusuri segala pelosok dan pori-pori udara. Melayang ke angkasa dan terurai oleh gas di udara. Satu tetes tinta di susu, membuat keruh susunya. Dio sudah basah akan bensin, dan ia yang menyulutkan bensin itu. Fajar tidak bisa berkata-kata, ia hanya berteriak memanggil nama Dio.

Read more!

Saturday, September 3, 2011

Untitled Poem

this poem was created 3 days ago, while i was sitting on the bed and post a stupid poem in my twitter account, it is not a real poem, just like a short story about someone feeling. check it out :)

Hari ini bulan tidak terlihat, tertutup awan kegelapan. Gelap. Kelam. Sunyi. Hanya suara jangkrik yang memekakkan telinga. Krik krik krik.

Kupandangi langit, entah apa yang kulihat. Setitik bintang, bersinar terang. Ya, itu venus. Ia menatap tenang ke hatiku. Hatiku tedalam.

Gundah. Gusar. Itu yang kurasakan. Hai venus, maukah kau meneragi kegelapan hatiku saat ini ? Akankah kau bersinar terus?

Bersinar terang, bak matahari di dunia kegelapan. Aku butuh penerang. Ketenangan. Diam terpaku tentu bukanlah sebuah tindakan.

Namun untuk saat ini, diam adalah hal yang tepat. Aku bukan pecundang. Lari dari kesalahan. Aku hanya butuh waktu, waktu dan waktu.

Waktuku bukan waktumu. Di lain waktu aku butuh kamu, tapi tidak selalu. Aku tidak menjauh, hanya butuh ruang

Read more!

Saturday, May 28, 2011

Bloodshed

Beberapa waktu lalu gue bikin puisi ini sebagai tugas Inggris gue. cuman sekedar share aja, gue dapet 80 untuk puisi walau gue ga yakin arti yang sebenarnya dari puisi ini, enjoy :)

War, a terrifying activity

There is no love, only hatred.

Hatred is not part of sanctity,
But love and hate have a common thread.
You and me, we are fight,
Struggle with bloodshed.
I don’t see the light,
Evil win the contest.
I’m not a ghost,
Is that dagger staring at me ?
I am just the black goat,
Are you using the dagger to murder me ?
My life should not gone
Everyone have a chance to live
Stop war ! Stop make the life gone,
Let them live with peace

Read more!

Monday, September 20, 2010

Prolog : Aku adalah kamu

keinginan gue dari dulu ampe sekarang yang belum terpenuhi itu ngebuat novel. dulu sempet bikin tapi mentok pas ngetik di halaman 30. susah deh, apalagi yang diketik itu cerita fiksi. gak tau awalnya gak tau endingnya. semoga tahun ini atau tahun depan gue bisa menyelesaikan novel gue. amin. gue mau berbagi prolog yang ntar bakal jadi buku gue. :)

<><><>
PROLOG

aku, adalah seorang terpilih di antara para pencundang
sekelompok pecundang yang hanya bisa menunggu hingga ajal menjemput
aku sadar, aku seorang manusia cupu, tak berotak bahkan seorang pengecut
kamu dan aku memiliki ras yang sama
1 ras yang hidup di bumi, ras manusia
aku terlahir untuk belajar akan perbedaan dan persamaan
acapkali diriku marah ! geram ! kesal !
itulah perasaan ketika aku dimaki orang lain
makian itu membakar hatiku, ah panas sekali
yah, aku adalah laki - laki berotak udang

ketika aku lahir, aku memandang ke langit
gelap, tidak sepenuhnya namun ada secerca terang yang memberi harapan
aku lahir normal, tidak melalui sesar
orang tuaku bukanlah seseorang yang terkenal
mereka hanya buruh, buruh perkebunan
namaku Fajar, orang tuaku memberi nama ini
karena akulah anak yang menjadi terang di rumah
aku lahir ketika fajar menyingsing
sehingga orang tuaku berpikir aku akan menjadi fajar itu
menerangi kegelapan hati orang lain, tidak sepenuhnya terang
di sisi lain, ada seorang sahabatku, namanya Amir
ia muncul ketika kegelapan memenuhi pikiranku
itulah teman, sahabat karib
aku merasa ia adalah yang terpilih untuk membantuku dalam misi kehidupan
semoga saja, aku bisa merubah dunia

<><><>

hahaha, itu hanya sebuah prolog, dan mungkin dari situ akan menjadi novel. amin.

seperti biasa. komen dan kritik diterima :) selamat membaca

Read more!

Saturday, September 18, 2010

Puisi : akrostikon : siapa kau ?

berhubung ada tugas BI yang diharuskan bikin puisi akrostikon dan kmrn liat di blog CN (click). gue mau berbagi puisi gue, bisa dilihat bahwa kata yang dipilih bukan sembarangan alias dari kbbi -__- butuh perjuangan buka kbbi dan cari kata-kata yang tepat. monggo dilihat dan dicermati :)

*kbbi : kamus besar bahasa indonesia. puisi di bawah hanya fisik belaka, bila ada kesamaan tempat dan kejadian itu hanya kebetulan belaka.

E : Erotis sikapnya
R : Rancu benakku dibuatnya
V : Vulgar ? tentu tidak
A : Acapkali pikiranku dibawa perginya
N : Nun Jauh di angkasa

S : Senyumlah kepadaku
U : Uber aku terus untuk mengejarmu
G : Gila, aku tergila-gila denganmu
I : Ikhlas hatiku menjadi pasanganmu
N : Namamu terukir abadi di hatiku
O : Oh indahnya cinta ini

puisi ini gue bikin 1 jem. minta kritik dong :) jadi bisa makin jago gue.

Read more!

Sunday, September 5, 2010

Puisi : akrostikon

apapun itu namanya gue gak tau, pokoknya yang puisi berasal dari nama :) gue mau berbagi nih baru aja gue buat kmrn lusa pas pelajaran Bahasa Indoensia check it out dude

D : di malam penuh bintang
E : engkau datang dalam benakku
H : hatiku berdebar-debar
A : andai kau ingat
K : ketika kita bersama
I : indahnya saat itu
D : dalam lubuk hatiku, aku masih mencintaimu

ini gak ditujukan buat siapa" cuman iseng aje, jadi jangan ada yang GR bisa repot gue.akakak

Read more!

Wednesday, July 14, 2010

Inspiration in Beijing

pohon menari indah
dahan bergerak melambai
burung berkicau menghentak sunyi

kau warna warni hidupku
pelangi dalam hatiku

"hari ini, aku merasa beda. dunia seakan menegur akan perbuatanku. karma, itulah yang sering disebut. aku tidak percaya akan karma. dunia dan kehidupan ditentukan oleh-Nya. aku hanyalah manusia kecil, dengan hati seenak jidat. semua sesuai perkiraan dan perkataan sendiri, masukan orang lain seperti angin yang lewat dengan cepat. berlalu begitu cepat. menatapi langit yang tampak gelap karena polusi yang banyak seakan mengingatkanku pada diriku yang kotor oleh polusi kehidupan. ah, aku tak banyak berpikir, keadaan yang membuatku begini. hidup seakan sepanjang jalan raya. TIDAK ! hidup ada anugerah dari-Nya yang sebesar alam semesta. sinar matahari masuk melalui celah sekecil apapun, rasa cinta yang dalam sama dengan sinar matahari itu.

hari ini aku melihat betapa indahnya dunia dengan daun yang melambai, burung yang menghibur dan sinar matahari yang menghangatkan tubuh.

thx for all, aku tak akan mampu mebayar :) "
14.19 - dorm 633 Beijing - BLCU
Ervan . S

Read more!

Saturday, May 15, 2010

Denni The Hero part 4

Previous: Part 3

eng ing eng

"Pil apa ini Denni ? Jawab !" seru sipir penjara.

"sa.. sa.. ya tid..tid..tidak tau pak. sungguh" jawab denni dengan gemetar yang berberberberlebihan.

"pil KB itu pak ! pil KB !" seru manusia lain yang berada di bui bersama dengan Denni.

"pil KB ? kau bercanda Denni, kau mencampakkanku. huaaaa T.T" tangis sipir penjara.

eng ing eng

ternyata kehidupan di penjara yang dipenuhin oleh manusia pecinta sesama jenis alias HOMO, membuat Denni menjadi sedikit gila (ada gangguan mental). Denni menjadi suka dengan sesamanya. sungguh tak terduga, ia yang dicintai oleh begitu banya kaum hawa sekarang ia menjadi homo. WTF.

sesaat sesudah sipir itu menangis, Denni jatuh terduduk.

"apa yang aku lakukan ? aku menghamili laki-laki lain. WTF, sekarang sipir akan selingkuh daripadaku......" Denni pingsan.

>< >< ><

"Waaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa........." teriak Denni.

"hosh hosh hosh." denni terbangun dan bengek paru"nya. ternyata ia hanya mimpi menjadi seorang homo dan memiliki pil KB maupun narkoba (from writer : jadi di part 3, ketika denni menerima pil narkoba itu hanyalah mimpi belaka, tapi yang dipenjara itu betulan :)).

"buset, mimpi apa gue. sungguh tak terduga, gue bisa suka sama cowok. ih n4J3Z deh." denni bergumam sendiri.

"cinta gue hanya untukmu fugi-chan, fugi aku rindu padamu."

fugi, siapa dia ? ya, fugi adalah seorang wanita yang sangat pandai. siapapun yang melihat dia pasti akan suka dengannya. ini ciri-cirinya

1. pekerjaan : profesional
2. punya jiwa : nasional
3. bahasa : internasional (bisa banyak bahasa)
4. teman-teman : di regional maupun internasional
5. hobi : suka ........

yang nomor 5 dirahasiakan (from writer : kalo mau tau, follow gue dulu :)). Denni jatuh cinta. tapi cintanya terhalan oleh besi penjara yang menjaga dia dari sentuhan orang lain. 10 minggu waktu yang cukup lama bila dihitung dengan detik. mari kita hitung :

10 minggu = 70 hari
70 hari = 1680 jam
1680 jam = 100800 menit
100800 menit = 6048000 detik !

tapi hasrat untuk memilikinya sudah melebihi batas. tiap malam ia mimpikan terus fugi-chan. sampai 3 kali. begini kejadiannya.

Mimpi 1
Denni dan Fugi adalah sepasang teman dekat. hampir menjadi kekasih, namun karna perkenalan mereka baru seumur jagung, mereka blom bisa menjadi kekasih. di mimpi itu Denni berjalan-jalan dengan Fugi mereka menghabiskan liburan musim panas. sungguh indah mimpi itu.

Mimpi 2
Denni mulai merasa ada yang janggal dengan pertemanannya. setiap malam ia selalu memikirkan Fugi. apakah ini yang namanya jatuh cinta ? woh sangat indah rasanya. jadi Denni mensiasati untuk mendekat pada Fugi, diajak lah pergi Fugi sang wanita pujaan. mereka makan malam di sebuah kafe yang cukup terkenal dekat pantai tempat Denni bekerja. di situ Fugi terlihat beda, wajahnya tampak buram, ia cemberut terlihat matanya memancarkan rasa yang marah. Denni segera menyudahi makan malam itu dan mereka pulang.

Mimpi 3
Denni dan Fugi bertemu lagi setelah 5 hari tak bertemu. sekarang dari mata Fugi jelas memancarkan rasa benci yang tinggi pada Denni. Fugi menampar Denni. entah apa alasan yang jelas. tapi Denni merasa ada yang salah dengan Fugi. ia tetap memperjuangkan cintanya dan ia ditampar lebih keras.

itulah mimpinya, tapi walaupun ia sudah bermimpi seperti itu. Denni tetap maju. sehingga ia berencana untuk kabur dari penjara itu.

bagaimanakah caranya ? apakah cinta Denni bisa sampai ke Fugi ?

wait for the next part, :D keep follow the story :D

Be Continued

Read more!
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...